05 Agustus 2008

Pastel

Kali ini pengen buat yang gurih dan pedes. Mumpung suasana lagi mendukung, ngintip mas Angga ternyata masih bobok, peralatan dan bahan-bahan telah tersedia, maka dengan segera mama berperang di dapur. Pembuatannya gak memakan waktu lama kok. Yang lama adalah nyubitin si kulit yang udah diisi rogout (soale cetakannya nggak tau ketlisut dimana).

Pastel
By: Fatmah Bahalwan

Bahan :
Tepung terigu untuk taburan
2 butir telur rebus, kupas, iris jadi 20

Isi :
3 sdm marganin, untuk menumis
4 siung bawang putih
10 butir bawang merah
150 gr daging ayam giling
75 gr wortel, potong dadu 1/2 cm
75 gr buncis, iris 1/2 cm
1 sdt garam
1 sdt merica bubuk
1 sdt gula pasir
100 cc susu cair
2 batang daun bawang, iris halus
3 batang seledri, iris halus

Kulit :
1 butir telur
1 sdt garam
250 gr tepung terigu
50 gr margarin leleh
75 cc air
minyak untuk menggoreng

Cara Membuat :
  1. Isi : Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum, masukkan daging ayam. Setelah berubah warna, masukkan wortel, buncis, garam, merica, gula. Tuangi susu, masak hingga matang. Masukkan daun bawang dan seledri. Aduk, angkat.
  2. Kulit : Kocok telur dan garam. Campurkan ke dalam terigu. Aduk sambil tuangi margarin leleh dan air. Uleni adonan hingga lembut dan dapat dibentuk.
  3. Gilas adonan hingga setebal lk 1/4 cm di atas meja bertabur tepung terigu.
  4. Cetak bentuk bundar bergaris tengah 10 cm.
  5. Ambil selembar adonan, beri 1 sdt adonan isi dan seiris telur rebus. Lipat jadi dua membentuk setengah lingkaran. Cubit-cubit keliling sisinya sampai tertutup rapat.
  6. Panaskan minyak goreng dengan api kecil. Masukkan pastel, goreng hingga kuning kecoklatan. Angkat, hidangkan hangat


14 Juli 2008

Koki Amatir

Sabtu kemaren di rumah Uti ketempatan arisan WK. Pesertanya gak banyak, sekitar 20 orang aja. Berhubung kita lagi indekos di sini, jadi ya wajib memenuhi pesenan tuan rumah.

Uti: 'dibuatin yang praktis aja yo Ma'
Mama: 'iya'
Uti: 'kue aja, kayak lemper, pukis, ato donat, trus apa lagi ya...'
Mama: (gubraakk...katanya praktis, kok jadi banyak requestnya)

Mulai berpikir...maksudnya praktis itu buat kue yang caranya gak ribet dan yang penting pasti jadinya, soalnya trauma banget kalo gagal (maklum koki amatir nihh)

Setelah berpikir sejenak, menimbang-nimbang sedikit, akhirnya selesai juga. Ini dia yang terpilih

ada lemper, pukis, bikang dan muffin

Standard banget ya, gak ada yang istimewa. Maklum minim pengalaman, tapi akan terus berusaha.

Eh, pas arisan belum mulai, ada seorang ibu yang nambahin kue hasil karya beliau sendiri. 'Buat icip-icip' katanya. Ya sudah, ditambahin deh kuenya. jepprettt..



Waktu arisan sudah buyar, tidak ada suguhan yang tersisa. Biasalah ibu-ibu pasti inget sama yang di rumah. Tas plastik pun udah disiapkan. Untung tadi kita udah sisihin sebagian. Hehe..

23 Juni 2008

Spaghetty

Keinginan Papa Eka-nya mas Angga. Lagi sakit cacar air yang terkurung dan gak bisa kemana-mana. Harus menyendiri di kamar, hanya ditemani bantal guling yang bau pesing. Hehehe...

Pengen spaghetty tapi buatan sendiri aja, minimalis dan jadinya lumayan banyak, dan semua bisa ikut ngincipin. Resepnya atas inisiatif sendiri, dan memang udah teruji sesuai dengan lidah orang rumah.




Spaghetty ala Dapurveo

Bahan:
1 kotak spaghetty
2 butir bawang bombai (ukuran sedang)
250 gr daging cincang (kalo terpaksa ya daging corned aja)
merica bubuk, garam, gula, kecap inggris, kecap manis (ukuran feeling aja)

Cara:
1. Rebus spaghetty 5-7 menit sampek agak lunak, beri garam sedikit. Tiriskan.
2. Panaskan minyak goreng, tumis bawang bombai sampai harum, tambahkan kecap manis, kecap inggris, merica bubuk, garam, gula. Masukkan daging, campur hingga rata. Beri sedikit air, biarkan hingga matang.
3. Siapkan spaghetty di piring saji, siram dengan sausnya.


20 Juni 2008

Timus...Pilus...gak tau dehh..


Ada yang kasih nama Timus, ada yang Pilus, gak tau deh yang bener yang mana. Yang jelas, ini salah satu gorengan favoritku. Rasa ketela yang kenyil-kenyil membuat lidah pengen terus bergoyang, hehe...Kalo di keluargaku sih nyebutnya tetep timus, perpaduan dari ketela, gula, telur dan tepung tapioka. Buatnya cukup mudah, sedikit memakan waktu sih, tapi gak banyak kok. Soalnya kan nunggu ketelanya dikukus dulu, trus dilumatin (dilembutkan), dicampur dengan bahan yang lain tadi sampek kalis. Setelah itu dibentuk bulat-bulat ato sesuai selera, trus digoreng sampek kekuningan, siap disantap. Dalam sekejap timus ludes tak bersisa. Lha gimana nggak, wong mama aja langsung habis tiga hehehe...


09 Juni 2008

Ngungsi..ngungsi...

Senang ya kalo kita punya impian yang kita pikir nggak bisa terwujud, eh akhirnya kelakon (terlaksana) juga. Critanya papa punya cita-cita pengen membuat benteng pertahanan alias rumah kita ini menjadi lebih "lega". Katanya biar tempat maen mas Angga jadi lebih luas. Memang sih rumah kita bukan tergolong rumah yang segede gaban, cuman kalo dirombak dikit bisa kelihatan lebih besar. Niatan ini sudah melanglang buana di pikiran papa sejak lama, cuman karna terbentur modal jadi ya diurungkan dulu. Nahh, karena hasrat sudha membara, dan dengan mempertimbangkan simpanan dana moneter yang ada, akhirnya kita bertekad juga untuk merombak si rumah.

Langkah pertama, ngrancang desainnya dulu. Digambar-gambar, meskipun gambar amatiran (yang penting tau maksude). Setelah desain selesai, mulai survei-survei, nanya kiri-kanan kira-kira harus siapin dana brapa untuk model yang kita inginkan. Memang untuk urusan yang beginian kita gak boleh keburu-buru, mesti sabar dan tenang, soale kan mesti mikir panjang (mikir desainnya, bahannya, terlebih sih dananya, trus mesti beresin barang, trus diungsikan, ngrepotin tempat yang buat ngungsi, mesti ijin tetangga kiri kanan depan blakang, belom nanti kalo udah selesai smua harus ngatur letak barang lagi, dll deh). Jadi memang mesti dipikir mateng-mateng deh, asal jangan kegosongan aja hehehe.

Dikarenakan kapasitas rumah kita yang nggak memungkinkan untuk ditempai dikala renovasi, jadi terpaksa kita harus ngungsi. Uti dan Akung dengan senang hati menerima kedatangan kita kembali untuk tinggal di rumah blio (ya iya lahh..secara mas Angga cucu pertama, jadi gak ada penolakkan blass...) Kurang lebih 3-4 bulan, kita harus hidup menumpang. Untungnya rumah pengungsian masih satu kota dan gak sebrapa jauh, butuh waktu 15 menit aja, jadi ya kita masih bisa nengokin rumah.

Ya udah deh, mari berkemas-kemas.


Segala peralatan dan perabotan dikeluarkan dari sarangnya, terlebih yang barang elektronik harus segera diselamatkan nih.

Kalo ini senjata mama waktu action di depan kaca rias. Karena barangnya kecil-kecil dan banyak, dimasukkan ke tas aja, toh nanti waktu dikamar baru dikeluarin lagi.


Barang-barang lainnya dimasukkan ke kardus besar. Korden-kordennya dilepasin trus langsung dilaundry aja, biar ringkes. Khusus perbekalan mas Anga, langsung dibawa sak lemarinya aja. Karna percuma kalo mesti dikeluarin dulu, nanti mesti ditata lagi di tempat yang sama.

Rumah jadi kayak kapal pecah aja. Segala berantakan dan keributan dimana-mana. Barang-barangnya gak semua diungsikan di rumah Uti dan Akung, tapi ada yang ke rumah Yangti dan Yangkung (khususnya barang yang besar-besar, secara rumah Yangti lebih terjangkau dari rumah, biar kalo usung-usung lagi gak terlalu jauh). Memang bener-bener repot deh.

Lha karena dapur juga terkena imbas renovasi, jadi sementara pinjem dapur Uti dulu untuk bereksperimen. Jadi enak juga, soale semakin banyak yang bisa diminta ngincipin hasil olahan chef amatir ini.